Selasa, 22 Maret 2011

Laba-laba, Penunggu Rumah yang Setia

Rasanya tiada duanya makhluk di dunia ini yang betah tinggal di rumahnya. Untuk mencari makan pun dia tak sedikitpun beranjak meninggalkan rumah yang telah dibuatnya. Binatang berkaki delapan ini sangat sabar menunggu makanannya datang dan terjerat rumahnya yang berbentuk jaring. Dia tak terpengaruh hiruk-pikuk di sekitarnya. Dia fokus di rumah yang dibuatnya dari benang-benang yang dikeluarkan dari tubuhnya. Dia tidak rakus terhadap kepemilikan rumah. Juga tak tamak dalam mencari makan. Dia akan makan kalau ada mangsa yang memang rejekinya. Sesekali dia bergeser untuk memperbaiki jalanya yang rusak akibat terpaan angin atau sebab lain.

Keterangan foto:
Dokumentasi pribadi dengan menggunakan kamera Sony DSC-W 150 pada 13 Pebruari 2011. Lokasi SMAPa Malang.

Sabtu, 19 Maret 2011

Ayam Pohon

Ayam pohon nama yang pantas diberikannya karena ayam tersebut selalu memanjat dan berdiam di pohon ketika malam hari. Perilaku ayam ini dipicu karena perlakuan dari sang pemiliknya. Biasanya sang peternak akan membuatkan kandang atau boks untuk ayam-ayam ternakannya. Namun tidak demikian halnya dengan beberapa peternak di Malang Selatan. Juga yang pernah penulis lihat di sebuah daerah di Kalimantan Tengah. Para peternak ayam cenderung membiarkan unggasnya berkeliaran dimana-mana pada siang hari. Bahkan tidak jarang mereka membiarkan begitu saja dengan tidak memberi makan apapun. Menjelas malam ayam-ayam ini akan berloncatan dan dengan sedikit kemampuan terbang yang ada menuju bagian atas suatu pohon yang daunnya dirasa rimbun. Untuk bisa menuju pohon, para pemilik ayam ini menyandarkan potongan bambu atau kayu pada pohon yang dimaksud. Potongan bambu atau kayu itulah yang nantinya digunakan ayam untuk memanjat menuju puncak pohon. Ayam-ayam itu akan bertengger di satu ranting yang dikehendaki dalam berbagai keadaan, termasuk ketika hujan deras terjadi.

Itulah cara primitif beternak ayam yang masih dilakukan sebagian peternak ayam. Mereka tidak memusingkan cara beternak ayam yang baik. Mereka juga tak merasa risau ayamnya berkeliaran dimana-mana dan sering mengganggu kenyamanan tetangga. Ayam-ayam itu membuang kotoran di teras rumah, masuk dapur, mengacak-acak tanaman, dan memakan kerupuk dan/atau bahan makanan yang dijemur karena mereka lapar.

Lantaran perlakuan tersebut, populasi ayam tersebut tidak bisa berkembang dengan baik. Ayamnya sering berkurang lantaran terserang penyakit dan kadang-kadang hilang yang mungkin karena dimangsa binatang liar.

Ayam pohon yang tertera pada foto di atas bertengger pada salah satu ranting tanaman buah "rambutan" setinggi sekitar empat meter.

Jumat, 18 Maret 2011

Profil Tanah--Andisol

Profil tanah yang dimaksud dalam gambar ini adalah profil tanah Andisol di kaki kompleks gunung Argowayang yang juga langsung bersambungan dengan kaki gunung Buthak--Kawi, tepatnya di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Nampak horison C dengan fragmen-fragmen batuan vulkanik mendominasi ketebalan profil tanas tersebut.

Rabu, 16 Maret 2011

Nelayan Kali Brantas

Nelayan adalah suatu aktifitas/pekerjaan menangkap ikan atau yang sejenis tanpa harus membudi-dayakannya di perairan darat maupun laut. Nelayan di perairan darat melakukan penangkapan ikan di sungai, danau, dan/atau rawa. Nelayan di perairan laut melakukan penangkapan ikan di laut, selat, teluk, dan samudera. Nelayan merupakan perwujudan dari bentuk interaksi manusia dengan lingkungan alamnya. Mengingat daerah perairan di sekitar penduduk tertentu banyak sekali ikan, maka di antara penduduk tersebut tertarik menekuni profesi sebagai penangkap ikan (nelayan) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Nelayan yang dimaksud dalam posting ini adalah nelayan kali (sungai) Brantas, kali terpenting dan terpanjang kedua di Jawa Timur. Aktifitas nelayan ini tepatnya berada di sisi luar bendungan Sengguruh, salah satu bendungan yang ada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Ada beberapa cara mereka menangkap ikan, di antaranya dengan menggunakan pancing, jala, dan jaring/pukat. Biasanya yang menggunakan jala dan jaring/pukat, mereka cenderung memakai perahu. Perahu tersebut dipakai untuk melakukan mobilitas dari suatu tempat ke tempat lain agar lebih efektif untuk memperoleh ikan tangkapan. Ikan tangkapan mereka adalah mujair, nila, gabus, udang, dan bahkan ada seorang pemancing yang menuturkan pernah memperoleh ikan louhan. Ikan hias impor yang pernah booming dan bisa berharga jutaan rupiah.

Selasa, 15 Maret 2011

Suweg

Tanaman yang tertera di latar depan foto ini nama daerahnya adalah suweg. Tanaman berumbi ini sebelum tumbuh dan membesar di permukaan tanah, didahului oleh munculnya bunga. Ya, bunga. Bunga yang menebarkan bau seperti bangkai. Bunga bangkai dari Jawa yang saya posting-kan sebelumnya. Setelah bunga itu layu dan memudar bau tak sedapnya, kemudian muncul tumbuhan yang sesungguhnya.

Batang semu tanaman tersebut akan layu pada saat musim kemarau datang. Saat itulah tanaman suweg akan memasuki masa dorman seperti keladi. Pada masa dorman itulah biasanya penduduk memanennya dan memanfaatkannya sebagai penganan.

Pada masa kecil saya penganan dari suweg ini cukup populer sebagai camilan. Masyarakat Jawa Tengah, Yogyakarta, dan masyarakat Jawa Timur sangat mengenalinya. Umbi yang kaya akan karbohidrat ini biasanya diolah menjadi makanan rebus yang kadang-kadang dihidangkan dengan ditaburi parutan kelapa muda. Bahkan sebagian orang merasa sudah kenyang bila memakan penganan suweg rebus tanpa harus makan nasi lagi. Kini tanaman ini semakin langka dan kurang diminati oleh generasi muda. Padahal suweg sebagai sumberdaya alam dari hasil pertanian hendaknya harus dipertahankan keberadaannya karena bisa berfungsi sebagai makanan alternatif makanan pokok pengganti beras.

Senin, 14 Maret 2011

Bungai Bangkai Jawa

Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia. Di antara keanekaragaman hayati itu berupa kekayaan taru (tumbuhan) yang salah satu di antaranya berupa bungai bangkai. Bunga yang menebarkan bau seperti bangkai ini yang paling dikenal dunia adalah bunga bangkai dari pulau Sumatera, yakni bunga Raflesia Arnoldi. Sebenarnya bunga bangkai tidak hanya tumbuh di pulau Sumatera, tetapi juga dapat ditemukan di pulau Jawa seperti yang tertera pada gambar di samping. Memang bunga bangkai dari Jawa ukurannya lebih kecil dibanding bunga bangkai yang berasal dari pulau Sumatera. Ukuran tinggi bunga bangkai dari Jawa ini sekitar 65cm. Namun demikian, keindahan bunga bangkai Jawa ini tidak kalah indah dibanding bunga sejenis yang ada di pulau Sumatera.

Bungai ini biasanya muncul pada awal musim penghujan, yakni pada bulan Oktober atau Nopember. Ketika mekar hanya bertahan sekitar tiga hari, kemudian secara berangsur-angsur akan layu dan mati.

Foto bunga bangkai tersebut saya ambil di sebuah pekarangan penduduk di Kabupaten Malang sekitar akhir Oktober tahun 2010.

Kamis, 06 Januari 2011

Lalat

Lalat merupakan binatang kecil yang termasuk dibenci manusia. Makhluk ini tidak pilih-pilih tempat/benda yang ingin dihinggapi. Tempat jorok maupun tempat bersih menjadi sasaran hinggapnya. Bau tidak sedap dan menjijikan menjadi sasaran hinggap kesukaannya. Lantaran itu lalat sering dicap sebagai biota pembawa berbagai penyakit. Terlebih lagi di kaki-kakinya tumbuh bulu-bulu halus yang bisa menempelkan bagian-bagian kecil dari sesuatu yang dihinggapinya. Belum lagi telapak kaki belakangnya yang melebar yang juga berfungsi sebagai penahan/penyengkeram sesuatu yang dihinggapinya. Tentu kaki-kaki itu akan cenderung membawa bagian tertentu dari sesuatu yang dihinggapinya. Seandainya yang dihinggapi itu bunga akan tidak menjadi masalah. Sebab yang akan terbawa adalah serbuk-serbuk sari yang justru membantu dalam proses pembuahan. Namun jika yang dihinggapi itu sesuatu yang jorok/kotor, maka yang akan menempel/terikut di kaki-kakinya adalah kotoran yang bisa jadi membawa bibit penyakit. Maka dari itulah lalat dibenci manusia.

Namun demikian menurut satu penuturan bahwa bagian dari lalat ini yang banyak mengandung penyakit adalah pada bagian kaki-kaki kirinya. Sedang bagian dari kaki-kaki kanannya merupakan penangkal dari penyakit. Jadi tempat obatnya. Menurut penuturan itu, jika misalnya air minum kita kejatuhan lalat dan air minum itu terpaksa kita minum maka sebelum diminum, lalat yang masuk ke dalam air itu dianjurkan untuk dibenamkan lalu dibuang, baru air itu diminum. Hal itu dilakukan karena untuk menetralisir penyakit yang ikut terbawa masuk dalam air minum itu. Apakah demikian adanya? Wallahu a'lam.